Sakit Mental Disebabkan Kebiasaan Merenung

Sakit Mental Disebabkan Merenung – Merenung bisa saja langkah untuk menentramkan diri, saat untuk terima menilai diri, dan ketidakberhasilan.

Tetapi, bila dilaksanakan terlalu berlebih, pasti ini bukan hal yang baik. Merenung ialah saat seorang pikirkan satu hal secara terus- dalam dan menerus.

Sakit Mental Dapat disebabkan oleh Kebisaan Merenung

Saat yang dipikir ialah suatu hal yang bagus, misalkan beberapa cara untuk hentikan rutinitas jeleknya atau mawas diri, tentu saja dampaknya akan bagus untuk dirinya.

Baca Juga: Berhentilah Merokok disekitar Terancam Nyawanya

Tetapi, perenungan yang akan kita ulas di sini yaitu yang berisi pemikiran negatif. Beberapa pikiran ini tiba terus-terusan, berputar, dan susah untuk disetop, walau orang itu sesungguhnya telah tidak ingin pikirkannya. Ini pasti dapat membuat dianya merasa terhimpit dan dihantui dengan beberapa hal itu.

Merilis Healthline, merenung jadi gelaran otak memikir terlalu berlebih yang dapat disebabkan karena hati negatif atau pengalaman. Umumnya, seorang dengan Sakit Mental trauma yang berat Disebabkan Merenung. Sebagai contoh, orang dengan stres yang tidak dapat stop untuk memikir negatif dan pada akhirnya menghancurkan pemikirannya sendiri.

Rutinitas merenung ini bila didiamkan kelamaan dapat berbahaya untuk kesehatan psikis, sebab bisa perpanjang atau bahkan juga jadi parah depresi. Tidak cuma itu, rutinitas ini dapat mengusik kekuatan untuk mengolah emosi dan memikir. Maka tidak tutup peluang nanti seorang akan berasa terisolasi dan menjauhi dari orang lain.

Banyak, lho, permasalahan kesehatan psikis yang diikuti dengan merenung terlalu berlebih, seperti stres, fobia, kecemasan, skizofrenia, dan masalah depresi pascatrauma (PTSD). Tetapi, tidak tutup peluang dalam beberapa kasus, perenungan terjadi demikian saja sesudah ada kejadian traumatis tertentu, seperti jalinan yang tidak berhasil, penghinaan (bullying), rasa tidak optimis berlebihan.

Terus menerus merenung dapat jadi memperburuk tanda-tanda keadaan psikis yang ada. Namun, sepanjang mampu mengatur pemikiran, tanda-tanda ini dapat berasa ringan, lebih berbahagia, dan rileks. Karenanya, mari belajar langkah mengatur pemikiran sama seperti yang diterangkan di bawah ini.

  1. Alihkan perhatian pada hal-hal lain

Saat mengetahui bila kamu mulai merenung, alihkan perhatian pada hal-hal lain supaya bisa putuskan transisi pikiranmu.

Coba saksikan sekitarmu, apa ada hal yang lain dapat dilaksanakan, dan tidak boleh memikir 2x untuk selekasnya melakukannya.

Sebagai contoh, kamu dapat menghubungi rekan atau keluarga, lakukan pekerjaan rumah, menggambar, melihat film, membaca buku, jalan-jalan di seputar lingkunganmu, atau hal yang lain yang dapat mengubah perhatianmu.

  1. Olahraga

Menurut sebuah study yang disampaikan dalam jurnal Frontiers in Psychology tahun 2018, satu sesion olahraga dapat kurangi tanda-tanda merenung atau ruminasi pada pasien rawat inap dengan analisis masalah mental.

Disebut jika 29 pasien rawat inap yang umur reratanya ialah 38,8 tahun disuruh isi quesioner setelah olahraga dan saat sebelum. Mereka menuntaskan ke-2 quesioner dalam minggu yang serupa hal keadaan fisik dan psikis mereka, seperti ruminasi, mood, hubungan sosial, kecapekan, dan konsentrasi.

Dari sana, didapatkan hasil perubahan menuju positif, baik dari kondisi psikis mereka dan fisik. Situasi hati, rasa capek, dan kemauan untuk merenung bisa dibuktikan menyusut mencolok.

  1. Meditasi

Meditasi dapat kurangi kemauan untuk merenung karena mewajibkan kamu untuk memikir lebih jernih, hingga emosi yang kacau pada diri jadi lebih tenang.

Saat kamu berasa pikiranmu selalu berkali-kali, cari lokasi yang tenang. Duduklah, ambil napas sedalam-dalam, dan konsentrasilah cuman pada pernafasan. Seiringnya waktu, meditasi akan membuat seorang lebih pahami jalinan di antara perasaan dan pikiran, hingga lebih dapat mengatur pemikiran

  1. Nikmati keelokan alam

Saat pemikiran mulai berasa capek, tidak ada kelirunya kamu menyisih dari kehidupan kota yang ingar bingar dan nikmati keelokan alam.

Menurut sebuah study yang disampaikan dalam jurnal Proceedings of The National Academy of Sciences of the United States of America (PNAS) tahun 2014, simpatisan yang berjalan di alam sepanjang 90 menit memberikan laporan jika jalan-jalan di alam bebas membuat kemauan untuk merenung semakin sedikit jika dibanding jalan-jalan di wilayah perkotaaan.

  1. Pikir jalan keluarnya, bukan permasalahannya

Yang terbanyak dipikir saat merenung ialah permasalahan yang terjadi di masa lampau dan bagaimanakah cara menggantinya. Membenahi permasalahan sudah pasti bisa, tetapi kamu harus ingat jika kekeliruan yang terjadi di masa lampau tidak bisa diganti. Kamu cuman dapat move on dan menghindar kekeliruan itu ke depannya.

Dibanding cuman pikirkan permasalahan yang telah melalui atau menyesali segalanya yang terjadi, konsentrasilah dengan jalan keluar yang dapat kamu kerjakan sekarang. Coba untuk merilekskan pikiranmu lebih dulu, selanjutnya pikikan jalan keluar dari persoalanmu.

Harus diingat jika jalan keluar tidak selamanya tiba dengan cepat. Maka kamu perlu bersabar dan tidak terburu-buru dalam ambil perlakuan, ya.

  1. Taruh diri di lingkungan yang positif

Lingkungan yang bagus pasti membuat watak diri yang bagus pula. Maka coba untuk cari lingkungan baru yang ada beberapa orang yang mempunyai pertimbangan positif.

Dengan ada di lingkungan itu dan memperoleh semangat dari mereka, pasti kamu bisa mengartikan satu kejadian lebih positif. Akhirnya, rutinitas merenung ini juga perlahan-lahan akan lenyap.

  1. Lebih menyukai diri kita

Cukup banyak yang berasa bila merenung disambungkan dengan tidak percaya diri, berasa harga dianya rendah, dan ketakutan akan penilaian dari orang lain.

Berdasar riset yang dengan judul “Rumination Mediates the Prospective Effect of Low Self-Esteem on Depression: A Five-Wave Longitudinal Studi” dalam jurnal Society for Personality and Social Psychology (SAGE) tahun 2012, sekitar 663 subyek riset umur 16-62 tahun dipandang sekitar 5 kali sepanjang delapan bulan untuk menunjukkan jalinan harga diri yang rendah dengan rutinitas merenung.

Rupanya, dalam hasil riset itu, harga diri yang merendah membuat subyek riset lebih senang mengeluhi kehidupan mereka dengan merenung, bahkan juga ke arah ke masalah psikis berbentuk depresi.

Jadi sayangilah diri kamu sendiri. Lakukan beberapa hal positif yang tingkatkan kompetensi diri, jujur pada diri kamu sendiri, terima realita bila ada yang tidak menyenangimu, tetapi ada beberapa orang yang menyukaimu.

Ini Pemicu Kerap Merenung

Rutinitas merenung dapat terjadi pada siapa saja. Tetapi, ini seringkali dirasakan pasien beberapa macam masalah psikis, misalkan OCD, PTSD, stres, keterikatan minuman masalah makan, dan mengandung alkohol. Kerap kali, kebiasan ini jadi parah keadaan masalah mentalnya.

Dalam sebuah riset, merenung tersering terjadi pada wanita sebagai reaksi pada kesedihan. Sedang untuk lelaki, umumnya merenung jadi tempat untuk melimpahkan emosi saat sedang geram. Disamping itu, seorang bisa juga kerap merenung karena argumen berikut:

  • Memiliki keyakinan jika dengan pikirkan suatu hal secara berkali-kali, dia bisa mendapati jalan keluar dari permasalahannya
  • Sedang hadapi permasalahan yang ada di luar kendaliannya
  • Memiliki kisah trauma fisik atau psikis
  • Memiliki karakter personalitas tertentu, seperti perfeksionis

Untuk beberapa orang, merenung ialah saat untuk lebih mengenali diri kita, sedang yang lain, ini ke arah pada tanda-tanda stres atau kecemasan. Dengan mengganti pola hidup menjadi lebih sehat, lakukan aktivitas yang positif, dan menyukai diri, kamu dapat lepas dari kemauan untuk merenung. Tetapi, bila ini masih menghantuimu, tidak ada kelirunya untuk diskusi dengan professional seperti psikolog atau psikiater.